Selamat Datang di Portal Sekolah

Spritualitas dan Kenusantaraan


Oleh : Aji Habibi S.Ikom

Sahabat News-Fenomena menarik dalam pergaulan dunia di akhir abad ke 20 adalah pencarian fungsi batas-batas fisik Negara sebagai pengemban tradisi dan peradaban bangsa. Penggunaan jasa teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi yang terus meluas mendorong interaksi budaya antarbangsa yang semakin tinggi. Pada saat yang sama, nasionalisme sebagai ideology bangsa mengalami erosi fungsional.

Kemandirian Tradisi adalah kekuatan utama bangsa saat bangsa besar atas nama Hak asasi manusia (HAM), Demokrasi, dan iptek melakukan hegemoni kepentingan ekonomi-politik seperti kolonealisme masa lalu. Penundukan atas bangsa lain tidak lagi mengandalkan kekuatan militer, tetapi dengan Nilai-nilai budaya yang lebih mematikan. Disini pula isu terorisme bermakna ganda yang bisa dipakai Negara-negara besar melakukan Hegemoni atas bangsa lain.

Pemecahan problem kebangsaan adalah Tanggung jawab seluruh kekuatan : Partai Politik, Organisasi sosial, ekonomi dan keagamaan, selain Militer dan kepolisian. Inilah arti penting pendidikan kewargaan bukan hanya pemilu, pemilihan presiden dan kepala daerah. Di saat Negara-Negara Besar terus bernafsu melakukan hegemoni, Negara-negara berkembang bertanggung jawab atas Nasibnya sendiri.

Nasionalisme bisa berfungsi sebagai pemersatu bangsa yang bercam-macam suku, ras, agama serta budaya, tetapi perlu secara operasional sehingga mampu memenuhi kebutuhan objektif ssetiap warga dalam suatu Negara dan bangsa. Tradisi dari suatu bangsa yang gagal memenuhi fungsi pemenuhan kebutuhan hidup objektif akan kehilangan peran sebagai peneguh nasionalisme. Hal ini bisa memperlemah kesatuan politik Negara-negara bersangkutan, lebih-lebih bagi Negara-negara yang terdiri dari beragam suku dan kepulauan seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karena itu, penting mengembangkan Nasionalisme yang bukan sekedar pemahaman, tetapi sebuah keyakinan dan kesadaran akan kehidupan kebangsaan dan nasionalitas. Kekuatan tradisi dan kemandirian bangsa menjadi penting dikembangkan sebagai suatu kesadaran pengalaman kolektif, suatu kesadaran kebangsaan yang bukan hanya merupakan lapisan tipis kesadaran kebangsaan yang bukan hanya merupakan lapisan tipis kesadaran elit nasional, tetapi sebagai ruh kehidupan keseharian warga dalam memecahkan berbagai bpersoalan sosial-politik, ekonomi dan keagamaan, juga dalam pengembangan iptek. Nasionalisme baru yang bukan sekedar slogan yang dipakai elit melakukan hegemoni serupa terhadap rakyat kebanyakan bagi kepentingannya sendiri.

Karena itu perlu dikembangkan model kesadaran primordial atas nasionalisme dan kenusantaraan. Agama bisa dijadikan media bagi pencapaian tujuan nasional jika bisa diorentasikan pada dimensi ruhaniah spiritual dari pada legal-formal kelembagaan. Disini, etika keagamaan bisa dijadikan bahan dasar penumbuhan model “ keagamaan Lokal” yang berbeda dari praktek keagamaan universal diberbagai bangsa.

Sangat penting dikembangkan praktik keagamaan sebagai promosi kemanusiaan yang memungkinkan pluralitas sosial-budaya menjadi akar nasionalisme dan kemandirian bangsa dan nasionalisme, bukan ajang perebutan kuasa elit lokal. Tanpa kekukuhan spiritualitas, bangsa beragam suku dengan ribuan pulau ini rentan menghadapi berbagai isu global yang tak seluruhnya sesuai tradisi kebangsaan. Persoalan yang selalu perlu dijawab bagaimana membangun kesadaran kolektif berdasar tradisinya sendiri berdialog secara cerdas dengan berbagai kekuatan dunia bukan sekedar menjadi boneka bangsa-bangsa besar.

Penulis adalah Lulusan S1 Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
Share this post :

Post a Comment

PAPAN PENGUMUMAN

 
Support : Link here | Link here | Link here
Copyright © 2014. SAHABAT NEWS - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by Blogger